kok blom muncul sih terusannya bidadari merah, terakhir nomor 10, seharusnya sekarang 11.
malah diterbitkan lagi dari awal:( kemasannya lebih lux, oleh penerbit ternama di Indonesia.
strategi pasar nih... menarik konsumen yg angk. muda.
halah...padahal kan ceritanya dah mo habis...
"Maya Kitajima adalah seorang gadis bodoh yang tidak cantik dan tidak punya keterampilan apa-apa.
Ia sangat suka menonton sandiwara. Tanpa disadainya, ternyata bakatnya ada di dunia itu. Beruntung, seorang artis kawakan, Mayuko, menemukan dan menyadari bakat Maya. Dan perjuangan Maya mengasah bakatnya di bawah asuhan Mayuko pun di mulai......."
LikeUnlike · Comment · Share · Delete
November 20, 2010
chapter 4: man...oh...man.... (place of crime: bus, sunday, october 17th, 2010, 7:06pm)
Setiap hari Senin saya selalu naik bus berangkat ke tempat kerja.
Saya pilih duduk di lajur bangku 2 karena tidak kena sinar matahari pagi, he...he... (karena kening terbisa berlipat menahan silau sinar matahari:))
Agak kurang beruntung dapat di deretan agak belakang.
It's OK, masih bisa duduk kok:)
Saya tidak terlalu memperhatikan seorang bapak yang duduk dibelakang saya.
Tidak berapa lama seorang mba duduk di sebelah saya... lega masih perempuan:)
Sambil menunggu muatan bus penuh...naiklah seorang ibu dan dia duduk dibangku belakang saya.
Bapak yang duduk di belakang saya mulai bercakap dengan ibu itu.
"Kerja di mana bu?". "Di Kelapa Gading", jawab ibu itu.
"Di mana ya tepatnya?" tanya bapak itu. "Di MKG, pak".
"Bergerak di bidang apa?" tanya bapak itu lebih lanjut. "Supply sekaligus menjual".
Tanpa di tanya, si bapak berkata kalau dia bekerja sebagai supervisor lapangan di kontraktor sumarecon yang ada di Sunter.
Lanjut bertanya, "sudah berkeluarga?". Si ibu menjawab," sudah".
"Suami mengantar?" ( ih...nih bapak... ya dah sksd nanya nya detail pula... )
"Iya, tadi saya diantar suami, sebelum dia berangkat kerja"
"Oh... tinggal dimana?". " Di Gaperi", jawab si ibu. "Dulu kan saya naik kereta jadi kita pilih untuk tinggal di Gaperi, lebih mudah dan cepat. "Ya saya tau itu", timpal si bapak.
"Berapa putera?", "Satu" jawab si ibu. "Oh" balas si bapak, tidak percaya.
"Iya, saya agak lama nunggu dapat momongan", jelas si ibu. "Untung ya tidak saling menyalahkan", respon si bapak.
"Anak saya tiga", tanpa di tanya si bapak menjelaskan.
"Ya mereka sudah besar-besar" sayang ibunya meninggalkan kita karena tidak tahan dengan keadaan saya waktu krisis moneter lalu.
"Sudah lama bu bekerja di Jakarta?". "Ya sudah lama sepuluh tahun" jawab si ibu.
"Kalau saya, sudah 15 tahun kerja di Jakarta".
"Kalau pulang bagaimana bu?". "Oh saya dan beberapa pekerja lain ikut kendaraan seseorang yang bekerja di Kelapa Gading kebetulan rumahnya di Gaperi juga".
"Oh enak ya".
"Ya... rumah ibarat Villa ya bu, kita pergi kerja pagi ...pulang sudah malam".
Mulai bapak itu cerita panjang lebar, "Saya kan tinggalnya di daerah pemda ke dalam, itu dulu harga tanah itu masih murah hanya rp.13 ribu per meter... ada orang butuh uang... mereka jual tanah, saya beli sedikit demi sedikit sekarang adalah lah kurang lebih satu hektar".
"Saya sih lebih suka invest ke tanah dan bangunan daripada kendaraan". "Naik bus sajalah, enak tinggal naik, duduk, klo ngantuk bisa tidur". 'Ada itu, saya ditawarkan mobil oleh seorang sales, saya bilang bisa aja beli, tapi kedepannya saya takut tidak bisa makan, belum biaya perawatannya".
"Iya, benar pak", respon si ibu.
"Dulu ibunya anak-anak minta dibelikan mobil, aduh... yang ada.... pergi .. sana...pergi sini...blom macetnya.... biaya... tambahan ini.. tambahan itu...., sayang dia gag tahan hidup bareng saya karena krismon, akhirnya dia pergi meninggalkan saya.
(yah... curhat dia....)
"Iya nih saya sedang mencari sosok yang pas untuk ibunya anak-anak". (weleh, ibu itu mah sdh bersuami pak)
(seingat g yg duduk dibangku belakang walau tidak terlalu memperhatikan, bapak2 semua, kaum hawanya paling ibu yang duduk di sebelahnya, mba yg duduk disebelah g, dan selebihnya ada di deretan depan)
"Saya, dikenalkan sama temen dengan si anu yang tinggal di... (gag inget g) lalu teman kerja yang tinggalnya di ...(gag inget juga)
(Mending tidur deh g ...tapi berhubung ni bapak ngomong mulu.... yg ada cuma mata g yang tertutup, tapi telinga tetap terjaga)
"Iya, masa mereka minta dibelikan rumah, mobil...". "Ya sudah saya cari aja lagi yang lain", kayak laku saja ya saya ini, si bapak berusaha melucu.. (gag lucu sama sekali...)
"Tiba-tiba teleponnya berdering.... , Hei, pa kabar?" Gimana, kamu pasang harga berapa?" (aduh ngomong bisnis kok di bus toh pak... terdengar kemana..mana....., percaya itu suaranya sampai ke depan.....) "saya kasih tau kamu ya... saya buka harga di 17 juta... kamu juga kan..... ya klo mereka nego-nego kuncilah di 15 juta.... OK. Iya nih nanti kan ada proyek di Sulawesi, Bali... grup nya samalah. Mereka inginnya orang2 lama yang main... klo saya sih inginnya kita ngumpul lagi bareng...gimana... OK kan, tanya si bapak.
Iyalah, di Sulawesi kan banyak ya cewe menado (ha..ha..ha... man's talk...)(kedengarannya becanda si bapak cuma gimana ya...ngedengernya... :(
Lama2 ngantuk.... g bangun pas di gudang garam..... Tau gag tuh bapak masih ngobrol sama temennya di telepon....
G pikir cuma cewe yg suka ngobrol....ternyata........
iya lagi ngumpulin juga uang untuk anak kuliah..........bla...bla...bla....
Eh... masih nyambung juga.... ke soal .... p e r e m p u a n....... halah.....
Iya cari ibu untuk anak-anak.... bisa.. ngerti saya..... bla..bla..bla....
ih.... bener deh... curhat sama si ibu ...... di sekeliling itu para bapak dan mas.....
gag tau ngobrol apa lagi tu bapak..... g dah turun duluan.....
Saya pilih duduk di lajur bangku 2 karena tidak kena sinar matahari pagi, he...he... (karena kening terbisa berlipat menahan silau sinar matahari:))
Agak kurang beruntung dapat di deretan agak belakang.
It's OK, masih bisa duduk kok:)
Saya tidak terlalu memperhatikan seorang bapak yang duduk dibelakang saya.
Tidak berapa lama seorang mba duduk di sebelah saya... lega masih perempuan:)
Sambil menunggu muatan bus penuh...naiklah seorang ibu dan dia duduk dibangku belakang saya.
Bapak yang duduk di belakang saya mulai bercakap dengan ibu itu.
"Kerja di mana bu?". "Di Kelapa Gading", jawab ibu itu.
"Di mana ya tepatnya?" tanya bapak itu. "Di MKG, pak".
"Bergerak di bidang apa?" tanya bapak itu lebih lanjut. "Supply sekaligus menjual".
Tanpa di tanya, si bapak berkata kalau dia bekerja sebagai supervisor lapangan di kontraktor sumarecon yang ada di Sunter.
Lanjut bertanya, "sudah berkeluarga?". Si ibu menjawab," sudah".
"Suami mengantar?" ( ih...nih bapak... ya dah sksd nanya nya detail pula... )
"Iya, tadi saya diantar suami, sebelum dia berangkat kerja"
"Oh... tinggal dimana?". " Di Gaperi", jawab si ibu. "Dulu kan saya naik kereta jadi kita pilih untuk tinggal di Gaperi, lebih mudah dan cepat. "Ya saya tau itu", timpal si bapak.
"Berapa putera?", "Satu" jawab si ibu. "Oh" balas si bapak, tidak percaya.
"Iya, saya agak lama nunggu dapat momongan", jelas si ibu. "Untung ya tidak saling menyalahkan", respon si bapak.
"Anak saya tiga", tanpa di tanya si bapak menjelaskan.
"Ya mereka sudah besar-besar" sayang ibunya meninggalkan kita karena tidak tahan dengan keadaan saya waktu krisis moneter lalu.
"Sudah lama bu bekerja di Jakarta?". "Ya sudah lama sepuluh tahun" jawab si ibu.
"Kalau saya, sudah 15 tahun kerja di Jakarta".
"Kalau pulang bagaimana bu?". "Oh saya dan beberapa pekerja lain ikut kendaraan seseorang yang bekerja di Kelapa Gading kebetulan rumahnya di Gaperi juga".
"Oh enak ya".
"Ya... rumah ibarat Villa ya bu, kita pergi kerja pagi ...pulang sudah malam".
Mulai bapak itu cerita panjang lebar, "Saya kan tinggalnya di daerah pemda ke dalam, itu dulu harga tanah itu masih murah hanya rp.13 ribu per meter... ada orang butuh uang... mereka jual tanah, saya beli sedikit demi sedikit sekarang adalah lah kurang lebih satu hektar".
"Saya sih lebih suka invest ke tanah dan bangunan daripada kendaraan". "Naik bus sajalah, enak tinggal naik, duduk, klo ngantuk bisa tidur". 'Ada itu, saya ditawarkan mobil oleh seorang sales, saya bilang bisa aja beli, tapi kedepannya saya takut tidak bisa makan, belum biaya perawatannya".
"Iya, benar pak", respon si ibu.
"Dulu ibunya anak-anak minta dibelikan mobil, aduh... yang ada.... pergi .. sana...pergi sini...blom macetnya.... biaya... tambahan ini.. tambahan itu...., sayang dia gag tahan hidup bareng saya karena krismon, akhirnya dia pergi meninggalkan saya.
(yah... curhat dia....)
"Iya nih saya sedang mencari sosok yang pas untuk ibunya anak-anak". (weleh, ibu itu mah sdh bersuami pak)
(seingat g yg duduk dibangku belakang walau tidak terlalu memperhatikan, bapak2 semua, kaum hawanya paling ibu yang duduk di sebelahnya, mba yg duduk disebelah g, dan selebihnya ada di deretan depan)
"Saya, dikenalkan sama temen dengan si anu yang tinggal di... (gag inget g) lalu teman kerja yang tinggalnya di ...(gag inget juga)
(Mending tidur deh g ...tapi berhubung ni bapak ngomong mulu.... yg ada cuma mata g yang tertutup, tapi telinga tetap terjaga)
"Iya, masa mereka minta dibelikan rumah, mobil...". "Ya sudah saya cari aja lagi yang lain", kayak laku saja ya saya ini, si bapak berusaha melucu.. (gag lucu sama sekali...)
"Tiba-tiba teleponnya berdering.... , Hei, pa kabar?" Gimana, kamu pasang harga berapa?" (aduh ngomong bisnis kok di bus toh pak... terdengar kemana..mana....., percaya itu suaranya sampai ke depan.....) "saya kasih tau kamu ya... saya buka harga di 17 juta... kamu juga kan..... ya klo mereka nego-nego kuncilah di 15 juta.... OK. Iya nih nanti kan ada proyek di Sulawesi, Bali... grup nya samalah. Mereka inginnya orang2 lama yang main... klo saya sih inginnya kita ngumpul lagi bareng...gimana... OK kan, tanya si bapak.
Iyalah, di Sulawesi kan banyak ya cewe menado (ha..ha..ha... man's talk...)(kedengarannya becanda si bapak cuma gimana ya...ngedengernya... :(
Lama2 ngantuk.... g bangun pas di gudang garam..... Tau gag tuh bapak masih ngobrol sama temennya di telepon....
G pikir cuma cewe yg suka ngobrol....ternyata........
iya lagi ngumpulin juga uang untuk anak kuliah..........bla...bla...bla....
Eh... masih nyambung juga.... ke soal .... p e r e m p u a n....... halah.....
Iya cari ibu untuk anak-anak.... bisa.. ngerti saya..... bla..bla..bla....
ih.... bener deh... curhat sama si ibu ...... di sekeliling itu para bapak dan mas.....
gag tau ngobrol apa lagi tu bapak..... g dah turun duluan.....
word and action (fb, sunday, oct 17th 2010, 1:19pm
Ada temen e-mail, asking a name which i couldn't recall my memory to load that she was one of our friends when we were junior high:(
temen ini bilang i helped her and she promised to returned the cash in time she promised. But there was no proof. And the worst thing, gag ada itikad baik sama sekali...halah....
and the most worst thing that she always put God's name in every of the conversation, status, bla..bla...
So jadi ikutan parno deh g....:(
temen ini bilang i helped her and she promised to returned the cash in time she promised. But there was no proof. And the worst thing, gag ada itikad baik sama sekali...halah....
and the most worst thing that she always put God's name in every of the conversation, status, bla..bla...
So jadi ikutan parno deh g....:(
grateful - fb, sunday, oct 10 2010, 8:35 pm
chapter 2: grateful tkp: tetep setia dgn angkot :)
pagi tadi, diangkot ketemu sama anak laki2, sy pikir ini anak sd. waktu ditanya, "de sd nya dimana?" (still yakin nanya >.<'). "bkn mba. aq dah smp kls 3". Oh.... maaf ya mba pikir masih sd:( gag pa2 mba, byk kok yg ngira gitu. soalnya sy makannya sedikit. kok bisa, tanya sy. iya soalnya uang jajanku seminggu cuma 50 rb. dan itu hrs cukup utk makan dll. aq tinggal sama sodara. ibuku tinggal dikampung jadi uang sakuku dijatah:(dlm hati, kebayang gag 1 hr makan 3 x. seminggu berarti 21 x, klo 1 piring nasi rp. 3rb (jaman gini mana ada, di jogja msh mungkin) total rp. 63 rb, uang saku 50 rb gag cukup) trus g nanya lagi, de...kurang dong ) iya mba... ya habis pulang skul aq ke pasar jadi kuli angkut lumayan (walah badan kecil gini jadi kuli angkut), trus nambah-nambah deh sama sampingan lain) salut deh sama anak ini. sayang gag tanya tinggal dimana:(
pagi tadi, diangkot ketemu sama anak laki2, sy pikir ini anak sd. waktu ditanya, "de sd nya dimana?" (still yakin nanya >.<'). "bkn mba. aq dah smp kls 3". Oh.... maaf ya mba pikir masih sd:( gag pa2 mba, byk kok yg ngira gitu. soalnya sy makannya sedikit. kok bisa, tanya sy. iya soalnya uang jajanku seminggu cuma 50 rb. dan itu hrs cukup utk makan dll. aq tinggal sama sodara. ibuku tinggal dikampung jadi uang sakuku dijatah:(dlm hati, kebayang gag 1 hr makan 3 x. seminggu berarti 21 x, klo 1 piring nasi rp. 3rb (jaman gini mana ada, di jogja msh mungkin) total rp. 63 rb, uang saku 50 rb gag cukup) trus g nanya lagi, de...kurang dong ) iya mba... ya habis pulang skul aq ke pasar jadi kuli angkut lumayan (walah badan kecil gini jadi kuli angkut), trus nambah-nambah deh sama sampingan lain) salut deh sama anak ini. sayang gag tanya tinggal dimana:(
November 17, 2010
kalau sumbu kita pendek bagaimana kita bisa belajar
banyak orang yang mengimani ajaran agamanya masing-masing dengan begitu kuat.
tapi sayang tanpa sadar justru yang kebanyakan kita Tuhankan adalah agama itu sendiri.
ketika berhadapan dengan orang-orang yang mau merendahkan dirinya untuk dapat melintas
dan mencoba memahami ajaran-ajaran agama yang ada,
yang diterima adalah hardikan bahwa orang-orang itu tidak punya iman.
lalu apa yang dimaksud dengan iman.
kalau iman hanya dibatasi dengan definisi, iman kepada agama.
betapa dangkalnya arti iman itu.
baru saja menulis di salah satu notes yang isinya tentang Yesus.
notabene orang yang mengenal saya dilingkungan dimana saya dibesarkan, marah.
yang saya tahu Kong Zi adalah seorang Nabi yang sangat toleran, berpikiran terbuka
dan memiliki visi ke depan yang luar biasa.
Dia tidak ingin mengangungkan diri dan ingin diagungkan.
Dia hanya mengangungkan satu sumber dan zat Yang Maha Dahsyat yaitu Tuhan sendiri.
Kalau saya membuat marah mereka, bukan maksud hati demikian.
Cara penerimaan tiap orang berbeda.
Kalau di desak di tanya kenapa kamu begitu ?
Saya percaya bahwa Tuhan sangat baik, karena Dia tidak memberi hati yang keras dan
pemarah pada saya:)
Kalau saya ikut marah, berarti saya tidak mengerti juga kenapa Tuhan baik.
tapi sayang tanpa sadar justru yang kebanyakan kita Tuhankan adalah agama itu sendiri.
ketika berhadapan dengan orang-orang yang mau merendahkan dirinya untuk dapat melintas
dan mencoba memahami ajaran-ajaran agama yang ada,
yang diterima adalah hardikan bahwa orang-orang itu tidak punya iman.
lalu apa yang dimaksud dengan iman.
kalau iman hanya dibatasi dengan definisi, iman kepada agama.
betapa dangkalnya arti iman itu.
baru saja menulis di salah satu notes yang isinya tentang Yesus.
notabene orang yang mengenal saya dilingkungan dimana saya dibesarkan, marah.
yang saya tahu Kong Zi adalah seorang Nabi yang sangat toleran, berpikiran terbuka
dan memiliki visi ke depan yang luar biasa.
Dia tidak ingin mengangungkan diri dan ingin diagungkan.
Dia hanya mengangungkan satu sumber dan zat Yang Maha Dahsyat yaitu Tuhan sendiri.
Kalau saya membuat marah mereka, bukan maksud hati demikian.
Cara penerimaan tiap orang berbeda.
Kalau di desak di tanya kenapa kamu begitu ?
Saya percaya bahwa Tuhan sangat baik, karena Dia tidak memberi hati yang keras dan
pemarah pada saya:)
Kalau saya ikut marah, berarti saya tidak mengerti juga kenapa Tuhan baik.
kesaksian Jim Caviezel pemeran Yesus dalam The Passion of the Christ.
Visit this: http://sityb.wordpress.com/
Taken from the web above:)
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of the Christ”.
Berikut refleksi atas perannya di film itu.
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).
“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.
Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.
Taken from the web above:)
Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of the Christ”.
Berikut refleksi atas perannya di film itu.
JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.
Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.
“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.
Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.
Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.
Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.
Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!
Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.
Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.
Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.
Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.
Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.
Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.
Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.
Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.
Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.
Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).
“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.
Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.
Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.
Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.
Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.
Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
